25 November

Seperti biasa, Bapak Sukonto Legowo bersiap mengajar lagi. Ia bawa buku-bukunya, melewati lorong kelas yang sudah sering dilewatinya hampir selama 20 tahun. Dinding-dinding yang sama tua dengannya, koyakan dinding tua yang terkelupas seakan menyapa ramah. Matahari sore yang bersinar lemah di antara daun-daun tinggi taman kampus ikut tersenyum ramah.

Matahari seakan juga ikut bercerita kepada daun-daun taman kampus, kepada gedung kampus, juga kepada buku yang dibawa sang dosen, betapa selama ini sang dosen telah menjadikan seorang bisa berjalan dalam dunia ilmu ke tingkat selanjutnya, membuatkan anak tangga pengetahuan ke setiap anak manusia yang dibimbingnya. Bagaimanapun sang dosen telah berbuat banyak dalam melestarikan ilmu pengetahuan, betapa sang dosen telah banyak menyentuh kehidupan di sekitarnya, dan betapa sedikit manusia yang mengetahui dan menghargainya.*

*Disadur dari Novel 5 cm, Donny Dhirgantoro.

Hari ini 25 November, tanggal yang istimewa. Awalnya saya tidak mengetahui bahwa ada sesuatu yang spesial di tanggal ini. Hingga akhirnya di penghujung tahun 2002, pada tanggal yang persis seperti hari ini, saya mengetahui bahwa ada peringatan yang spesial untuk para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Itu pun karena pada tanggal 25 November, sembilan tahun yang lalu, diadakan upacara peringatan Hari Guru Nasional di SMU tempat saya bersekolah. Kali pertama dan terakhir saya memperingati upacara peringatan hari Guru. Mengingat ini adalah upacara pertama yang dilakukan semenjak saya mengenyam pendidikan di SMU untuk memperingati hari Guru, sedangkan tahun berikutnya saya sudah mulai kuliah. Tak ada lagi peringatan hari Guru di tempat saya kuliah, apalagi peringatan Hari Dosen Nasional (memang ada ya??). Dosen kan juga guru tho???.

Sebenarnya 25 November diperingati sebagai hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), hingga pada akhirnya ditetapkan pemerintah sebagai hari Guru Nasional. Saya pikir kebijakan pemerintah tersebut sangat tepat dan cukup beralasan. Dalam setahun minimal ada satu hari spesial bagi sang kuli kapur guru untuk dikenang jasanya, walaupun hanya melalui lantunan lagu Hymne Guru.

Teringat sebuah lagu yang sering ditayangkan selepas siaran berita malam di Stasiun Televisi Nasional di era 93-94 (saat saya masih kelas 3 SD), lagu yang juga dilantunkan secara merdu oleh paduan suara SMUNSA Curup saat upacara hari Guru Nasional sembilan tahun lalu. Momen yang membuat saya terus teringat bahwa tanggal 25 Nopember adalah hari spesial untuk guruku tersayang. Berikut lirik lagu tersebut yang saya tak tahu judul maupun penciptanya:

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa?

Kita bisa pandai dibimbing Bu Guru

Kita bisa pandai dibimbing Pak Guru

Guru bak pelita

Penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

 

Selamat Hari Guru…….

Ruang Baca Departemen, 1.59 pm

Ditulis pada cerita | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

Dan aku rela……

Saat ini saya terjebak hujan yang sangat deras. Petir menggelegar. Langit bergemuruh. Hingga saat ini saya masih belum mendapatkan jawaban pasti terkait penyebab petir yang sangat menakutkan di kota hujan ini . Intensitasnya sangat tinggi. Sampai-sampai ada daerah yang bernama Cibereum petir di sini. Pada awalnya saya berada di Bogor, saya sempat terkejut dengan kondisi saat ini. Sampai akhirnya lama kelamaan  saya terbiasa dan sepertinya bisa menikmati gemuruh suara alam, meski kadang kala saya juga masih sering terkejut dan was-was bila petir yang muncul sangat kencang dan muncul tiba-tiba.

Ruang utama masjid Al Hurriyah tempat saya menunggu hujan reda saat ini cukup ramai. Wing kiri masjid dekat tempat dudukku terdapat tiga orang yang tertidur, serta satu kelompok mentoring mahasiswa tingkat satu. Lantai Al Hurriyah bertambah dingin, sedingin hatiku yang akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengikuti double degree program ke Ryukyus University. Saya memutuskan tidak jadi mengambil kesempatan ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu:

  1. Saya belum punya nilai TOEFL resmi. Saya baru bisa mengikuti  test TOEFL ITP untuk jadwal tanggal 17 Desember 2011.
  2. Proposal rencana penelitian belum saya kerjakan, malahan saya bingung mau penelitian tentang apa nantinya (berhubung rencana awal penelitian yang sudah saya susun untuk tesis saya sepertinya kurang relevan bila diaplikasikan dengan kondisi di Jepang).
  3. Niat saya yang sudah melenceng… niat tak lagi lurus untuk menuntut ilmu
  4. Kondisi saya yang memang sepertinya belum siap untuk menjalani ini semua (dengan persiapan yang tidak sampai dua minggu sejak info double degree diumumkan hingga deadline pengumpulan berkas)

Ah…. Kenapa baru sekarang saya menyadari kelemahan saya ini. Besok adalah deadline penyerahan berkas. Saya tahu, ini adalah jalan yang memang harus saya tempuh. Saya berfikir bahwa ini semua adalah dampak dari kesalahan yang sudah sangat sering saya perbuat. Semuanya bermuara pada ketidakseriusan, kurang konsentrasi, malas, menganggap enteng segala sesuatu, dan akhirnya merasa diri paling hebat.

Saya rela, saya harus melepaskan kesempatan ini. Saya tahu saya memang belum pantas untuk mendapatkan kesempatan itu. Saya harus memperbaiki diri. Lebih banyak membaca. Manajemen waktu yang baik. Berhenti bermaksiat. Hingga akhirnya saya bisa mencapai target saya tahun depan: Summer Course in Taiwan… Bismillah…

Ruang Utama Al Hurriyah, 9.15 pm, Hujan mulai mereda (saatnya untuk pulang).

Ditulis pada cerita | Di-tag , | 2 Komentar

Tanah Basah

Sesekali langkah ini terhenti. Aku terpekur memandangi tanah basah di hadapanku. Pandangan monoton yang selama tiga tahun terakhir menemani hari-hari sepiku. Tanah basah ini tetap serupa seperti awal aku melihatnya pertama kali. Tanah basah yang menimbulkan decak kagumku karena kesederhanaannya. Tanah basah yang akhirnya lambat laun aku anggap biasa karena tiap hari aku bertemu dengannya. Tanah basah yang tak banyak tingkah. Berusaha senormal mungkin menjalankan perannya di dunia. Sempat aku bertanya dalam hati, “Tidakkah kau bosan menjadi tanah basah?”

Ah tanah basah… maafkan aku yang telah menganggapmu biasa. Sampai akhirnya kau pun aku acuhkan. Padahal aku tahu, banyak manfaat bila aku bisa lebih memperhatikanmu…

Selamat tinggal tanah basah…..  Sepertinya suatu saat aku akan merindukanmu….

Terminal Tanah Merah, 3 Agustus 2011

Ditulis pada cerita | Tinggalkan Komentar

Langkah Awal

Akhirnya hari ini saya berhasil juga untuk membuat blog. Setelah menunda beberapa waktu lamanya (lebih kurang tiga tahun :-) ) sejak seorang teman menawari serta menganjurkan kepada saya untuk segera membuat blog. “Ayo lah, engkau kan suka menulis… Tak ada salahnya untuk menuangkan tulisanmu pada sebuah blog”, begitu perkataan temanku saat ia menganjurkan saya membuat blog. Bahkan tak segan ia menawarkan dirinya untuk membantu membuatkan blog untuk saya… Aih… tiga tahun lamanya masa itu sudah berlalu. Jikalau pada saat itu saya hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih atas penawaran baiknya, maka pagi ini saya sudah berhasil memenuhi keinginannya agar saya membuat blog. Semoga dengan adanya blog ini bisa membuat saya untuk lebih rajin menulis.. Akhirnya semoga blog ini bisa bermanfaat….

Ditulis pada cerita | Di-tag | 3 Komentar